Jakarta, beritaapm.com – Performa JETOUR di Indonesia mulai kelihatan arahnya. Sepanjang semester pertama 2026, brand asal Tiongkok ini mencatat penjualan ritel 1.424 unit, dengan distribusi ke dealer (wholesales) mencapai 1.525 unit. Angka ini memang belum besar, tapi cukup jadi sinyal kalau pasar mulai melirik.

Kalau dibedah, penjualan JETOUR ternyata sangat bergantung pada satu model yakni JETOUR T2.

SUV bergaya adventure ini menyumbang sekitar 1.002 unit retail sales, alias mayoritas penjualan mereka. Bisa dibilang, T2 adalah “tulang punggung” JETOUR saat ini.

Hal ini sebenarnya cukup masuk akal. Desain gagah, mesin 2.0 turbo, penggerak 4WD, plus fitur off-road bikin T2 punya daya tarik kuat, terutama buat konsumen yang ingin SUV beda dari yang lain.

Tapi di sisi lain, kondisi ini juga jadi catatan. Karena model lain seperti T1, T1 i-DM, DASHING, dan X70 Plus kontribusinya masih kecil.

Total penjualan di luar T2 belum terlalu signifikan, yang artinya penerimaan pasar belum merata.

Secara produk, JETOUR sebenarnya cukup “niat”. Fitur lengkap, teknologi banyak, bahkan sudah masuk ke hybrid lewat T1 i-DM.

Tapi di Indonesia, jualan mobil bukan cuma soal spesifikasi. Yang jadi pertanyaan besar justru ada di aftersales.

Sebagai pemain baru, jaringan dealer dan bengkel JETOUR masih belum luas.

Buat konsumen di kota besar mungkin aman, tapi bagaimana dengan yang di daerah? Ini penting, karena konsumen Indonesia cenderung mikir panjang seperti servis di mana, spare part gampang atau tidak, dan berapa biaya perawatannya.

Belum lagi soal resale value. Brand baru biasanya butuh waktu untuk membuktikan harga jual kembali tetap stabil.

Kalau ini belum terjawab, banyak calon pembeli bakal mikir dua kali.

JETOUR juga mulai masuk ke elektrifikasi lewat T1 i-DM. Secara teknologi, ini menarik karena bisa jalan full EV, hybrid, sampai regenerative braking.

Tapi realitanya, pasar hybrid di Indonesia masih berkembang dan belum semua konsumen siap.

Tanpa edukasi yang kuat dan jaringan yang mendukung, model seperti ini bisa jadi cuma pelengkap, bukan kontributor utama penjualan.

Penjualan JETOUR di semester I 2026 memang menunjukkan progres positif.

Tapi kalau mau naik level, mereka harus segera beresin hal yang lebih krusial seperti aftersales dan kepercayaan konsumen.

Karena di Indonesia, mobil bagus saja tidak cukup yang dicari adalah mobil yang tenang dipakai bertahun-tahun.