Jakarta, beritaapm.com – iCAR mencoba membuktikan bahwa SUV listrik dengan desain boxy tidak selalu identik dengan karakter kaku dan kemampuan off-road semata. Hal itu ditunjukkan melalui film pendek bertajuk “Wuhu Drift”, yang menampilkan iCAR V23 melakukan sejumlah aksi ekstrem.
Video ini diproduksi iCAR dan menghadirkan Cody Walker, adik mendiang Paul Walker yang dikenal lewat waralaba film Fast & Furious.
Kehadiran Cody sekaligus menjadi penghormatan terhadap budaya drift yang selama ini lekat dengan film tersebut.
Dalam film pendek tersebut, iCAR V23 terlihat melakukan drifting di jalanan yang sempit hingga beradu aksi dengan dua mobil sport ikonik, Nissan GT-R R34 dan Honda S2000.
SUV listrik ini juga diperlihatkan menuruni delapan anak tangga dalam satu manuver.
Menariknya, iCAR menyebut seluruh adegan dilakukan secara nyata tanpa bantuan efek visual atau CGI.
Mobil yang digunakan juga diklaim masih menggunakan konfigurasi standar, termasuk sistem penggerak dan struktur bodi.
Secara karakter, SUV bukan kendaraan yang lazim digunakan untuk aksi drift ekstrem.
Dimensi yang besar, pusat gravitasi lebih tinggi, bobot yang relatif berat, serta karakter suspensi menjadi sejumlah tantangan ketika kendaraan diajak melakukan manuver agresif.
Namun, dalam “Wuhu Drift”, iCAR justru ingin menunjukkan sisi berbeda dari V23.
Mobil ini diperlihatkan mampu menjaga kestabilan setelah melakukan lompatan, sekaligus mempertahankan respons kemudi ketika melakukan drifting di ruang yang terbatas.
Distribusi tenaga juga menjadi bagian penting dalam aksi tersebut. Saat melaju dalam kecepatan tinggi, tenaga diklaim tetap dapat disalurkan secara halus dan konsisten.
Bahkan dalam adegan drifting dengan jarak sangat dekat dari dinding serta reverse spin secara beriringan, struktur bodi dan rigiditas torsional V23 disebut mampu menopang berbagai manuver tersebut.
Yang menjadi poin menarik, seluruh aksi tersebut diklaim dilakukan dengan arsitektur sasis, sistem penggerak, dan struktur bodi standar.
Di luar kemampuan bermanuver, iCAR juga memanfaatkan film pendek ini untuk memperlihatkan bagaimana V23 dapat diubah sesuai karakter pemiliknya.
Penampilan V23 dalam video dibuat jauh lebih agresif. Mobil tersebut mendapatkan sejumlah aksesori bergaya kendaraan balap, seperti carbon fiber racing wing berukuran besar, lampu tambahan di atap, side aero spoiler, livery geometris, velg multi-spoke putih, hingga wide body kit.
Konsep tersebut bukan sekadar kosmetik. iCAR memang merancang V23 dengan pendekatan modular sejak awal.
Beberapa komponen seperti bumper depan, fender flare, dan roof rack dapat dilepas atau diganti tanpa harus memotong, mengebor, maupun mengubah struktur kendaraan secara permanen.
Pendekatan ini membuat pemilik memiliki ruang yang lebih luas untuk melakukan personalisasi tanpa harus melakukan modifikasi struktural yang rumit.
Konsep tersebut kemudian diterjemahkan iCAR melalui filosofi built-ready.
V23 memiliki lebih dari 20 titik modifikasi yang tersebar di sejumlah bagian kendaraan, mulai dari atap, dashboard, pilar D, hingga area sasis.
Titik-titik tersebut dapat digunakan untuk memasang berbagai aksesori, seperti roof rack, side ladder, crossbar, console mount, cargo net, hingga perlengkapan pendukung aktivitas luar ruang.
Roof rack-nya sendiri diklaim mampu menahan beban statis hingga 200 kg. Artinya, pemilik dapat memanfaatkannya untuk membawa perlengkapan seperti roof tent, sepeda, atau side awning.
Sementara itu, fender flare yang bisa dilepas-pasang memungkinkan penggunaan konfigurasi ban berbeda, baik untuk kebutuhan all-terrain maupun penggunaan di jalan raya.
Area pilar D juga disiapkan untuk membawa perlengkapan overlanding sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai elemen pembatas privasi.
Apa yang ingin ditonjolkan iCAR sebenarnya bukan hanya kemampuan V23 melakukan drift.
Lewat “Wuhu Drift”, merek ini mencoba membawa gagasan bahwa kendaraan modern bisa menjadi bagian dari ekspresi pemiliknya. Konsep personalisasi seperti ini bukan hal baru di dunia otomotif.
Budaya hot rod di Amerika Serikat, modifikasi JDM di Jepang, hingga tren overlanding berkembang dari komunitas yang ingin membuat kendaraannya berbeda dari versi standar pabrikan.
Kini, tren tersebut semakin beragam. Gaya bosozoku, performance tuning Eropa, sampai budaya overlanding terus memengaruhi cara generasi baru memandang kendaraan.
Dalam konteks tersebut, iCAR ingin menempatkan V23 sebagai SUV listrik yang tidak berhenti pada fungsi transportasi.
